(Foto Mbah Situg dan Rumahnya)
Giritontro ~ Wonogiri - Berapa lama
orang bisa mencukupi kebutuhan hidup dengan uang Rp 30 ribu? Mbah Situg (85),
warga Dusun Tekil, Desa Tlogoharjo, Kecamatan Giritontro mengandalkan Rp 30
ribu untuk hidup selama dua minggu atau lebih.
Nenek renta dengan punggung
melengkung termakan usia ini memang bukan seorang pensiunan Pegawai Negeri
Sipil (PNS). Tapi Kebesaran Sang Pencipta memberikan dana pensiun kepada Mbah
Situg. Tiga batang pohon Sirsat di belakang rumah, itulah dana pensiun yang setiap satu hingga dua minggu sekali memberi
tunjangan hari tua kepada Mbah Situg sebesar Rp 20-30 ribu.
“Saben seminggu napa kalih minggu
bakul langganan kula mriki numbasi sirsat. Piyambake ngundhuh piyambak terus
nyukani kalih dasa ngantos tigang dasa ewu (Setiap seminggu atau dua minggu sekali pedagang langganan
saya datang membeli sirsat.
Dia memetik sendiri terus memberi
uang Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu- red), ” tutur Mbah Situg tentang dana pensiunnya. Angka itu memang teramat kecil dibanding uang pensiunan PNS
golongan paling rendah sekalipun. Tapi sang nenek yang dengan nama lengkapnya
sendiri sudah lupa itu tetap mensyukurinya.
Di dalam dapur gelapnya, Mbah Situg
mengaplikasikan hasil penjualan buah sirsatnya untuk mencukupi kebutuhan hidup.
Tentu saja sekedar tuntutan kebutuhan perut.
“Nggih ngge tumbas wos, tempe, brambang, lombok kalih bumbu sanesipun Mas (Ya untuk beli beras, tempe, brambang, lombok dan bumbu lainnya- red), ” jelas Mbah Situg.
“Nggih ngge tumbas wos, tempe, brambang, lombok kalih bumbu sanesipun Mas (Ya untuk beli beras, tempe, brambang, lombok dan bumbu lainnya- red), ” jelas Mbah Situg.
Memperbaiki gubuk berdinding seng
gelombang yang sudah rapuh di sana-sini dengan Rp 30 ribu per minggu? Tentu
saja hal itu mustahil. Apalagi untuk membeli kemewahan.
Namun nenek sebatang kara yang tinggal di pinggiran hutan itu tidak menunjukkan kesedihan dengan ketidakmampuan yang menderanya. Dia masih bersyukur bisa makan setiap hari tanpa harus meminta belas kasihan orang lain.
Namun nenek sebatang kara yang tinggal di pinggiran hutan itu tidak menunjukkan kesedihan dengan ketidakmampuan yang menderanya. Dia masih bersyukur bisa makan setiap hari tanpa harus meminta belas kasihan orang lain.
Kalaupun duit tak cukup untuk
membeli beras, setidak-tidaknya setiap tahun puluhan batang singkong di
pekarangan rumahnya masih bisa dikeringkan untuk dibuat nasi thiwul. Cukup mengenyangkan.
Tapi jangan tanyakan kandungan gizi atau kelezatannya. Karena Mbah Situg tidak
merasa perlu untuk mengeluhkannya.
Tentang tiga batang pohon sirsat yang menjadi dana pensiun Mbah Situg, barangkali inilah salah satu Kuasa Illahi. Tanpa pernah dipupuk, ketiga pohon sirsat ini tak putus berbuah sepanjang tahun. Untuk menjualnya, Mbah Situg juga tidak perlu repot-repot ke pasar. Juga tak ada tawar menawar antara Mbah Situg dengan pembeli sirsat yang datang dan memetik sendiri dana pensiunan Mbah Situg itu.
Uang sebesar Rp 20 ribu hingga Rp
30 ribu sekarung kresek sirsat. Itulah kemewahan yang diterima Mbah Situg.
Kemewahan karena diterima dengan penuh rasa syukur. Atau bisa jadi sebuah wujud
ketidakberdayaan seorang nenek renta. Boleh jadi pula ini sebuah gambaran
kemakmuran yang semakin tidak merata. Tinggal dengan kaca mata apa kita
memandangnya. (bambang-widi)
Sumber :
AspirasiMedia
Tidak ada komentar:
Write komentar